Outcome Bias

menilai keputusan ekonomi hanya dari hasilnya bukan dari proses logikanya

Outcome Bias
I

Coba kita bayangkan sejenak dua orang teman kita, sebut saja si A dan si B. Suatu malam, si A memutuskan untuk menginvestasikan seluruh tabungan hidupnya ke sebuah meme coin kripto yang tidak jelas asal-usulnya. Alasannya? Dia baru saja bermimpi didatangi naga emas. Di sisi lain, si B menghabiskan waktu berminggu-minggu membaca laporan keuangan, menganalisis risiko, dan akhirnya membeli saham perusahaan raksasa yang fundamentalnya sangat sehat.

Lalu, apa yang terjadi? Besoknya, terjadi krisis global yang membuat saham perusahaan raksasa anjlok parah. Si B rugi besar. Sementara itu, meme coin milik si A tiba-tiba di-pumping oleh seorang miliarder di internet. Si A mendadak jadi miliarder baru.

Sekarang, pertanyaan untuk kita semua: Siapa investor yang lebih pintar?

Secara insting, banyak orang di sekitar kita akan menepuk pundak si A, memujinya sebagai jenius insting pasar, dan mungkin meminta saran investasi darinya. Sementara si B? Dia akan diceramahi panjang lebar karena dianggap salah langkah. Padahal, kalau kita mau jujur, logika siapa yang sebenarnya lebih masuk akal? Di sinilah otak kita sering kali menjebak kita sendiri.

II

Kenapa kita secara otomatis lebih menghargai si A daripada si B? Jawabannya ada pada bagaimana otak manusia berevolusi. Otak kita sangat terobsesi dengan hasil akhir.

Di masa lalu, saat nenek moyang kita hidup di padang sabana, proses tidaklah penting. Kalau ada semak-semak bergoyang dan seseorang memutuskan lari, lalu ternyata itu harimau, dia selamat. Keputusannya lari dinilai benar karena hasilnya dia hidup. Alam liar tidak memberi nilai pada analisis risiko yang mendalam. Alam liar hanya peduli pada siapa yang masih bernapas di akhir hari.

Sayangnya, sirkuit otak purba ini terbawa sampai ke zaman modern. Kita membawa insting bertahan hidup ini ke pasar saham, ke keputusan bisnis, dan ke pengelolaan gaji bulanan. Kita mulai membangun sebuah asumsi yang diam-diam sangat berbahaya. Kita mulai percaya bahwa hasil yang bagus pasti berasal dari keputusan yang cerdas. Begitu juga sebaliknya, hasil yang buruk pasti berasal dari keputusan yang bodoh. Kita perlahan-lahan menjadi buta terhadap sebuah faktor raksasa yang selalu ada di setiap sudut kehidupan ekonomi kita: keberuntungan.

III

Mari kita bawa ini ke skala yang lebih luas. Pernahkah teman-teman membaca buku biografi para miliarder atau pengusaha sukses? Mereka sering menceritakan keputusan-keputusan nekat yang mereka ambil. Menggadaikan rumah, meminjam uang dari rentenir, atau menentang semua riset pasar demi sebuah "firasat".

Karena mereka sekarang sukses dan fotonya ada di sampul majalah, kita menelan mentah-mentah cerita itu sebagai rumus kesuksesan. Kita berpikir, "Oh, kalau mau kaya, saya harus berani ambil risiko gila seperti dia."

Tapi tunggu sebentar. Pernahkah kita memikirkan ribuan orang lain yang mengambil keputusan persis sama, dengan kenekatan yang sama, namun berakhir bangkrut dan hidup di jalanan? Majalah bisnis tidak pernah mewawancarai mereka. Kegagalan mereka terkubur diam-diam.

Ini memunculkan sebuah pertanyaan besar di kepala kita. Jika kita terus-menerus meniru orang hanya berdasarkan hasil akhirnya yang kebetulan sukses, apakah kita sedang belajar ilmu ekonomi yang benar? Atau kita hanya sedang meniru orang bodoh yang sedang menang lotre? Jika kita menghukum orang yang mengambil keputusan logis hanya karena dia kebetulan sedang sial, sistem seperti apa yang sedang kita bangun di otak kita?

IV

Di sinilah sains psikologi masuk dan memberi nama pada fenomena ini. Jebakan pikiran ini disebut sebagai outcome bias atau bias hasil.

Outcome bias adalah kecenderungan kognitif di mana kita menilai kualitas sebuah keputusan hanya berdasarkan hasil akhirnya, tanpa mempedulikan seberapa baik atau buruk proses logika saat keputusan itu dibuat. Dalam dunia sains dan probabilitas, ini adalah sebuah kesalahan fatal.

Dunia ekonomi dan investasi bukanlah matematika dasar di mana 1 tambah 1 pasti 2. Dunia ini penuh dengan noise, variabel acak, dan kejutan yang tidak bisa diprediksi. Keputusan yang sangat brilian, dengan perhitungan yang sangat matang, bisa saja berujung pada kerugian karena faktor X yang di luar kendali. Sebaliknya, keputusan yang sangat ngawur dan irasional bisa saja membawa untung besar karena murni keberuntungan.

Ketika kita membiarkan outcome bias menyetir penilaian kita, kita sedang menanam bom waktu. Jika kita memuji keputusan ekonomi yang buruk hanya karena kebetulan untung, kita akan mengulangi kebodohan itu lagi di masa depan. Cepat atau lambat, probabilitas akan berbalik menggigit kita. Keberuntungan akan habis, dan saat itu terjadi, kehancurannya tidak akan bisa diselamatkan.

V

Jadi, bagaimana kita bisa keluar dari jebakan evolusi ini? Pertama-tama, kita butuh empati untuk diri kita sendiri. Wajar jika kita merasa kecewa saat investasi atau bisnis kita gagal. Sangat manusiawi untuk merasa menyesal.

Namun, sebagai pemikir yang kritis, kita harus mulai memisahkan antara kualitas keputusan dan hasil keputusan. Mulailah mengevaluasi keputusan finansial berdasarkan informasi apa yang kita miliki pada saat keputusan itu dibuat, bukan setelah hasilnya keluar.

Jika teman-teman sudah melakukan riset yang benar, menyiapkan dana darurat, dan mengukur risiko dengan logis, lalu ternyata pasar anjlok karena pandemi atau perang, jangan hukum diri sendiri. Itu adalah keputusan yang baik dengan hasil yang buruk. Tetaplah pada proses itu. Dalam jangka panjang, proses yang benar akan mengalahkan keberuntungan yang acak.

Sebaliknya, mari kita lebih skeptis pada keuntungan instan. Jika kita untung besar dari keputusan yang impulsif dan asal-asalan, jangan cepat merasa bangga. Berterimakasihlah pada alam semesta karena kita sedang beruntung, lalu segera perbaiki sistem logika kita.

Pada akhirnya, hidup bukanlah tentang mengendalikan hasil, karena itu mustahil. Hidup adalah tentang membangun proses berpikir yang paling masuk akal, lalu memiliki kebesaran hati untuk menerima apa pun hasil yang dilemparkan dunia kepada kita. Mari berhenti memuja hasil, dan mulailah menghargai logika.